Pendidikan di Tana Toraja tidak dapat tumbuh dan berkembang begitu saja tanpa ada unsur-unsur yang mendorongnya terutama orang member perhatian khusus, terhadap perlunya perkembangan pendidikan itu diprogramkan sejalan dengan perkembangan Ekonomi Politik dan Pemerintahan secara nasional. Dengan tidak mengabaikan orang-orang Toraja yang memperhatikan pendidikan di Tana Toraja maka nama-nama seperti : J. Linting alm, W.L. Tambing alm, F. Lande alm, J. So’Inan alm, tidak dapat dilupakan. Katakanlah pendiri SMP Neg. Rantepao pada tanggal 16 Maret 1946 adalah alm. J. So’Inan, Sampe Pandin, J. Gerung sedang pendiri SMA Neg. Rantepao bersama SMEA Kr. Makale adalah W.L. Tambing alm, selanjutnya pendiri sekolah-sekolah Kristen yang tidak dapat kita lupakan adalah J. Linting dan F. Lande khusus untuk Pendiri UKI Toraja yang semula bernama C.P.G Kristen ( Collage Pendidikan Guru) Kristen, SMA Kristen dan STM Kr. Tagari.
Kalau kita melihat hasil pendidikan di Tana Toraja, berupa mahasiswa yang dapat mengisi sebagian Pengurus Tinggi Ternama di Indonesia dan selanjutnya setelah tamat, dapat mengisi jabatan/ lowongan di birograsi pemerintahan dan perusahaan perusahaan swasta atau jenjang kemiliteran dan kepolisian, maka sepatutnya kita boleh berbangga, dan berkata kepada mereka yang tersebut namanya di atas, “JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA” dan merekalah yang patut menerima gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Pemerintah kabupaten Tana Toraja bersama DPRD-nya, seharusnya setiap tahun dalam memperingati hari Pendidikan Nasional setidak-tidaknya menyebut nama-nama Pahlawan Pendidikan di daerah Tana Toraja tersebut di atas. Dalam rangka Reuni Akbar dalam memperingati HUT EMAS (50 TAHUN) SMEA Kr. Makale ini yang jatuh pada tanggal 06 september 2007. Panitia memutuskan untuk menyusun sejarah SMEA Kr. Makale, yang sekarang ini bernama SMK Kr. Disamakan, agar para siswa, guru-guru SMEA Kr. (SMK Kristen) yang ada sekarang dan yang akan datang dapat mengenal asal usul dari perjuangan berdirinya sekolah ini, dengan harapan akan menjadi dorongan/motivasi dalam belajar bagi siswanya dan mengajar/mendidik bagi guru-gurunya, serta pembinaan bagi komite dan Y.P.K.T.
A. Masa Persiapan
Pada tahun 1956, pemerintah dalam hal ini Direktur Pendidik Guru menetapkan bahwa pada tahun ajaran 1957/1958 SGB di seluruh Indonesia tidak akan menerima murid baru, karena di anggap guru-guru tamatan SGB, sudah tidak layak mengajar di SD. Guru yang layak mengajar di SD adalah tamatan SPG. Ini berarti empat tahun kemudian, yaitu pada tahun ajaran 1960/1961, SGB sudah tidak ada dan gedungnya tentu akan mubazir. Bapak W.L Tambing waktu itu adalah anggota DPR RI dari Parkindo melihat kondisi ini lalu segera mengambil langkah berkonsultasi dengan beberapa orang antara lain Pdt. Y.Linting, yang waktu itu menjabat sebagai ketua YPKT. Kesimpulan yang diambil adalah supaya SGB Kr. Makale, diusulkan ke Direktorat Pendidikan Guru dan Pendidikan Kejuruan untuk dialihkan menjadi SMEA Kristen. Surat pengusulan dibawah ke Jakarta dan secara prinsipil usul itu diterima. Setelah yakin bahwa SGB Kr. Makale sudah pasti dapat dialihkan menjadi SMEA Kristen, maka langka selanjutnya dilakukan Bapak W.L Tambing adalah mencari siapa yang akan menjadi guru dan memimpin sekolah itu nanti. Hal ini perlu secara mantap dipersiapkan, oleh karena pemimpin dan guru yang dipersiapkan harus memiliki latar belakang pendidikan ekonomi. Rupanya setelah bertanya ke mana-mana akhirnya beliau mendapat informasi, bahwa di UI ada anak toraja yang bernama Ishak Bitticaca, sementara kuliah pada tingkat C2 (Candidat dua) sudah lulus tingkat Protadeuse. Informasi ini tidak disia-siakan, lalu pada bulan maret 1957 mencari mahasiswa Ishak Bitticaca tersebut ke Salemba (UI) untuk menyampaikan rencana pembukaan SMEA di Makale pada awal tahun pelajaran 1957/1958. Ishak Bitticaca waktu itu kebetulan juga merangkap kuliah di Kursus BI Ekonomi dan sementara mempersiapkan diri untuk ujian akhir pada bulan mei/juni 1957. Kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan ini adalah saudara Ishak Bitticaca setuju ke Tana Toraja mengajar di SMEA Kr. Yang dialihkan dari SGB Kristen dengan catatan:
Pengangkatan Sdr. Ishak Bitticaca untuk sementara dititip di SMEA Negeri Makassar. Setelah dinyatakan lulus BI Ekonomi, Sdr. Ishak Bitticaca secara otomatis diangkat menjadi guru SMEA dan ditempatkan di SMEA Negeri Makassar, karena ia kebetulan mendapat beasiswa dari Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PKK). Ia diangkat dengan SK. No. 75283/C-1, tanggal 15 Agustus 1957 dan berlaku mulai 1 September 1957.
Proses penerbitan SK Pengangkatannya cukup lama yaitu dari bulan Juni-Agustus 1957 (3 bulan). Karena menurut SK Pengangkatan ia ditempatkan di SMEA Negeri Makassar, maka sambil menunggu mutasi secara administrasi, maka gaji dibayarkan melalui SMEA Negeri Makassar.
Sementara itu, di asrama Elim Rantepao berlangsung pendaftaran siswa. Ada sekitar 70 orang mendaftar, tetapi setelah tahun pelajaran dimulai yang aktif hanya 48 orang. Kemudian setelah Direktorat Pendidikan Guru memastikan kelengkapan persyaratan untuk pembukaan sekolah baru yaitu tersediahnya :
Maka dikirimlah telegram ke YPKT yang isinya : Setujuh SGB Kristen Makale dialihkan menjadi SMEA Kristen Makale.
B. SMEA Kristen Makale Tahun I 1957/1958
Mengenai terjadinya peristiwa 1958, sebenarnya tidak perlu terjadi andaikata tidak ada peristiwa Permesta. Karena terjadi pemberontakan Permesta di Sulut, maka terpaksa TNI Bn 514 yang bertugas di tana Toraja dikerahkan ke Sulut untuk menumpas pemberontakan disana. Akibat terjadinya kevakuman pengamanan di Toraja, Tentara Res 23 dari Makassar mengisi kevakuman, tetapi kedatangan Res 23 pengganti Bn 514 ditunggangi oleh politik “Adu Domba”. Res 23 di susupi kelompok-kelompok tertentu untuk membalas dendam pada peristiwa 1952 di Tana Toraja. Pada waktu ini kelompok pengacau dapat dipatahkan oleh rakyat dibawah pimpinan Pappang seorang anggota Bn. Frans Karangan yang waktu itu sedang cuti di Tana Toraja.
C. Meletakkan Dasar-dasar Mencintai Alam
Pada tahun 1959 menjelang libur tahunan para guru memprogramkan apa yang mereka namakan “Long Mars”. Long Mars adalah kegiatan menjelajahi desa-desa dengan jalan kaki sambil melihat dari dekat bagaimana kehidupan social ekonomi masyarakat pedesaan. Setiap tempat yang dilalui pada malam hari diadakan ibadah, paduan suara, serta sandiwara yang dihadiri oleh masyarakat desa setempat. Long Mars pertama diadakan dalam bulan Juni 1959, berangkat pagi dari Makale, Selasa menuju ke Pasa’ Buntu di Pasa’ Buntu menginap semalam, dan pagi-pagi jam 3 subuh hari Rabu rombongan peserta laki-laki mengikuti ekspedisi OPD (Organisasi Pertahanan Desa) menumpas gerombolan di daerah Pasa’ Dalle Duri. Pulang dari sana sekitar jam 13.00, perjalanan dilanjutkan ke Palesan. Di sini pada malamnya diadakan ibadah dan paduan suara. Besoknya hari Kamis pagi-pagi sekali jam 6 tanpa sarapan menuju ke Tapparan di Tapparan menginap di rumah keluarga Sarira, sebuah Tongkonan yang beratapkan Batu Pahat. Kegiatan pada malam hari adalah diskusi sejarah rumah Tongkonan tersebut dan ibadah. Besoknya pagi-pagi sekali jam 7 setelah sarapan kembali ke Makale melalui Rantetayo.
Tiba di Makale sekitar jam 12 .00, sambil berbaris mengelilingi kolam. Masyarakat sekitar, Menonton kedatangan rombongan sambil melambaikan tangan. Jumlah rombongan terdiri atas Guru dan Siswa.
Long Mars kedua diadakan menjelang Hari Natal 1959 dengan sasaran Benteng Batu Pongtiku di Baruppu. Long Mars kali ini memakan waktu 3 hari 2 malam. Rombongan berangkat jalan kaki pagi-pagi dari Makale, Buntu Mamullu, Lolai, Pangala’, Baruppu’, Setelah bermalam di Baruppu, Rombongan pagi-pagi ke Benteng Buntu Batu Pongtiku untuk menyaksikan lokasi pertahanan Pongtiku waktu melawan Kompeni Belanda tahun 1906 – 1907. Rombongan diikuti 27 orang.
Long Mars ke 3 diadakan dari tanggal 27 Desember 1960 sampai 4 Januari 1961, dengan mengambil rute perjalanan Bittuang – Mamasa – Nosu – Pana’ – Bittuang – Makale.
Tanggal 28 Desember meuju ke Bittuang, di Bittuang rombongan mengadakan sandiwara pada malamnya. Kemudian tanggal 29 menuju Mamasa, lewat To’ Lamba’, di To’ Lamba’ menginap di rumah to Parengge’. Rombongan di jamu oleh penduduk dengan memotong satu ekor babi. Ibadah sambil memperingati hari kelahiran alm. Thomas Panggalo. Pagi-pagi tanpa sarapan pagi, berangkat menuju Mamasa tiba di Mamasa pukul 12.00 istirahat dirumah penduduk. Malamnya rama tamah dengan penduduk dan bertemu dengan Letnan Alex, selaku komandan keamanan di Mamasa. Waktu itu, baru juga selesai diamankan kerusuhan disana yang dilakukan tentara Andi Selle. Besoknya tanggal 31 rombongan terpencar mengikuti kebaktian tutup tahun di Tondok Bakaru dan Tawalian.
Tanggal 1 Januari 1961 rombongan berangkat ke Nosu melewati hutan rimba. Ditengah hutan rombongan istirahat sambil beribadah menyambut tahun baru 1961. Perjalanan yang memakan waktu 11 jam itu 07.00 - 17.00 mengakibatkan kelelahan yang hampir tidak ditahan oleh rombongan khusus Sdr I. Bitticaca, terpaksa dipapa sepanjang kurang lebih 3 jam. Walaupun berat akhirnya rombongan tiba di Nosu ± 17.00 diterima di rumah Majelis. Rombongan lagi-lagi dijamu dengan memotong seekor Babi. Kesan yang dirasakan rombongan adalah Masyarakat Nosu sangat gembira, udara yang sangat dingin. Bayangkan daging babi yang disuduhkan panas-panas lemaknya langsung membeku diperkirakan dinginnya udara Nosu ± 5 - 100 C. Pada malam hari rombongan menggelar lagi sandiwara. Keesokan harinya tanggal 2 Januari rombongan menuju ke Pana’. Rombongan tiba di Pana’ ± 17.00 dan diterima oleh Parenge’ Pana’. Bapak Pai’pinan, seorang pemimpin perlawanan rakyat melawan Tentara Andi Selle. Masyarakat Pana’ yang jumlahnya ± 50 orang ikut menyambut rombongan dengan menunjukkan tari-tarian pa’gandang 100 irama. Betul-betul sambutan masyarakat sangat ramai. Rombongan lagi-lagi di jamu dengan memotong seekor babi.
Pagi-pagi 3 Januari 1961 rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bittuang melalui jembatan gantung Massuppu’, Bau, Pali’. Tiba di Bittuang ± jam 17.30. Rombongan istirahat semalam lalu besoknya tanggal 4 Januari 1961 pagi-pagi kembali ke Makale dan tiba jam 16.00.
Peserta adalah I. Bitticaca, Thomas Panggalo alm. Musa Toding, Jhon Rundpadang alm, Ludia Paonganan, Benyamin Bura, Layuk Sarung Allo, Yacoba Sampe Rante, dan lain-lain kurang lebih 28 orang.
D. Mengembangkan Pendidikan Ekstra Kurikuler
DAFTAR NAMA PEJABAT KEPALA SMEA (SMK) KRISTEN MAKALE




Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut…
Copyright © 2020 - 2026 SMK Kristen Makale All rights reserved.
Powered by IT Team SMK Kristen Makale