SMK Kristen Makale

Jl. Bhayangkara No. 16 Makale, Tana Toraja

Takut akan Tuhan adalah permulaan segala pengetahuan (Amsal 1:7)

Sejarah Singkat

Selasa, 08 Februari 2022 ~ Oleh Admin SMK Kristen Makale ~ Dilihat 5018 Kali

Pendidikan di Tana Toraja tidak dapat tumbuh dan berkembang begitu saja tanpa ada unsur-unsur yang mendorongnya terutama orang member perhatian khusus, terhadap perlunya perkembangan pendidikan itu diprogramkan sejalan dengan perkembangan Ekonomi Politik dan Pemerintahan secara nasional. Dengan tidak mengabaikan orang-orang Toraja yang memperhatikan pendidikan di Tana Toraja maka nama-nama seperti : J. Linting alm, W.L. Tambing alm, F. Lande alm, J. So’Inan alm, tidak dapat dilupakan. Katakanlah pendiri SMP Neg. Rantepao pada tanggal 16 Maret 1946 adalah alm. J. So’Inan, Sampe Pandin, J. Gerung sedang pendiri SMA Neg. Rantepao bersama SMEA Kr. Makale adalah W.L. Tambing alm, selanjutnya pendiri sekolah-sekolah Kristen yang tidak dapat kita lupakan adalah J. Linting dan F. Lande khusus untuk Pendiri UKI Toraja yang semula bernama C.P.G Kristen ( Collage Pendidikan Guru) Kristen, SMA Kristen dan STM Kr. Tagari.

Kalau kita melihat hasil pendidikan di Tana Toraja, berupa mahasiswa yang dapat mengisi sebagian Pengurus Tinggi Ternama di Indonesia dan selanjutnya setelah tamat, dapat mengisi jabatan/ lowongan di birograsi pemerintahan dan perusahaan perusahaan swasta atau jenjang kemiliteran dan kepolisian, maka sepatutnya kita boleh berbangga, dan berkata kepada mereka yang tersebut namanya di atas, “JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA” dan merekalah yang patut menerima gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Pemerintah kabupaten Tana Toraja bersama DPRD-nya, seharusnya setiap tahun dalam memperingati hari Pendidikan Nasional setidak-tidaknya menyebut nama-nama Pahlawan Pendidikan di daerah Tana Toraja tersebut di atas. Dalam rangka Reuni Akbar dalam memperingati HUT EMAS (50 TAHUN) SMEA Kr. Makale ini yang jatuh pada tanggal 06 september 2007. Panitia memutuskan untuk menyusun sejarah SMEA Kr. Makale, yang sekarang ini bernama SMK Kr. Disamakan, agar para siswa, guru-guru SMEA Kr. (SMK Kristen) yang ada sekarang dan yang akan datang dapat mengenal asal usul dari perjuangan berdirinya sekolah ini, dengan harapan akan menjadi dorongan/motivasi dalam belajar bagi siswanya dan mengajar/mendidik bagi guru-gurunya, serta pembinaan bagi komite dan Y.P.K.T.

                                                                                               

A. Masa Persiapan

            Pada tahun 1956, pemerintah dalam hal ini Direktur Pendidik Guru menetapkan bahwa pada tahun ajaran 1957/1958 SGB di seluruh Indonesia tidak akan menerima murid baru, karena di anggap guru-guru tamatan SGB, sudah tidak layak mengajar di SD. Guru yang layak mengajar di SD adalah tamatan SPG. Ini berarti empat tahun kemudian, yaitu pada tahun ajaran 1960/1961, SGB sudah tidak ada dan gedungnya tentu akan mubazir. Bapak W.L Tambing waktu itu adalah anggota DPR RI dari Parkindo melihat kondisi ini lalu segera mengambil langkah berkonsultasi dengan beberapa orang antara lain Pdt. Y.Linting, yang waktu itu menjabat sebagai ketua YPKT. Kesimpulan yang diambil adalah supaya SGB Kr. Makale, diusulkan ke Direktorat Pendidikan Guru dan Pendidikan Kejuruan untuk dialihkan menjadi SMEA Kristen. Surat pengusulan dibawah ke Jakarta dan secara prinsipil usul itu diterima. Setelah yakin bahwa SGB Kr. Makale sudah pasti dapat dialihkan menjadi SMEA Kristen, maka langka selanjutnya dilakukan Bapak W.L Tambing adalah mencari siapa yang akan menjadi guru dan memimpin sekolah itu nanti. Hal ini perlu secara mantap dipersiapkan, oleh karena pemimpin dan guru yang dipersiapkan harus memiliki latar belakang pendidikan ekonomi. Rupanya setelah bertanya ke mana-mana akhirnya beliau mendapat informasi, bahwa di UI ada anak toraja yang bernama Ishak Bitticaca, sementara kuliah pada tingkat C2 (Candidat dua) sudah lulus tingkat Protadeuse. Informasi ini tidak disia-siakan, lalu pada bulan maret 1957 mencari mahasiswa Ishak Bitticaca tersebut ke Salemba (UI) untuk menyampaikan rencana pembukaan SMEA di Makale pada awal tahun pelajaran 1957/1958. Ishak Bitticaca waktu itu kebetulan juga merangkap kuliah di Kursus BI Ekonomi dan sementara mempersiapkan diri untuk ujian akhir pada bulan mei/juni 1957. Kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan ini adalah saudara Ishak Bitticaca setuju ke Tana Toraja mengajar di SMEA Kr. Yang dialihkan dari SGB Kristen dengan catatan:

  1. Baru dilaksanakan/ berangkat bila memiliki SK pengangkatan dari Direktorat Pendidikan Ekonomi.
  2. Setelah 3 tahun mengabdi akan kembali ke Jakarta untuk melanjutkan Pendidikan di UI atau B2 Ekonomi, waktu itu belum ada rencana pembukaan IKIP.
  3. Perumahan di Makale dipersiapkan oleh Yayasan.

Pengangkatan  Sdr. Ishak Bitticaca untuk sementara dititip di  SMEA Negeri Makassar. Setelah dinyatakan lulus BI Ekonomi, Sdr. Ishak Bitticaca secara otomatis diangkat menjadi guru SMEA dan ditempatkan di SMEA Negeri Makassar, karena ia kebetulan mendapat beasiswa dari Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PKK). Ia diangkat dengan SK. No. 75283/C-1, tanggal 15 Agustus 1957 dan berlaku mulai 1 September 1957.

Proses penerbitan SK Pengangkatannya cukup lama yaitu dari bulan Juni-Agustus 1957 (3 bulan). Karena menurut SK Pengangkatan ia ditempatkan di SMEA Negeri Makassar, maka sambil menunggu mutasi secara administrasi, maka gaji dibayarkan melalui SMEA Negeri Makassar.

Sementara itu, di asrama Elim Rantepao berlangsung pendaftaran siswa. Ada sekitar 70 orang mendaftar, tetapi setelah tahun pelajaran dimulai yang aktif hanya 48 orang. Kemudian setelah Direktorat Pendidikan Guru memastikan kelengkapan persyaratan untuk pembukaan sekolah baru yaitu tersediahnya :

  1. Ruang belajar
  2. Guru dan tenaga administrasi lainnya
  3. Perabot sekolah dan sarana penunjang pendidikan lainnya.

Maka dikirimlah telegram ke YPKT yang isinya : Setujuh SGB Kristen Makale dialihkan menjadi SMEA Kristen Makale.

             

B. SMEA Kristen Makale Tahun  I 1957/1958 

 

  1. Setelah Direktur Pendidikan Guru mengirim telegram pesertujuan SGB Kristen Makale dialihkan menjadi SMEA Kristen Makale maka dibentuklah panitia penerimaan siswa SMEA yang diketahui oleh Yonathan Salusu sekarang Prof. Dr. Salusu MA Rektor UKI Makassar. Beliau waktu itu dalah guru PTM ( Pengarahan Tenaga Mahasiswa ) di SMA Neg. Rantepao. Karena nota penugasan kepada Saudara Ishak Bitticaca belum dikeluarkan oleh Direktur Pendidikan Kejuruan, sedangkan tahun ajaran sudah berjalan, maka siswa-siswi yang sudah diterima untuk sementara belajar di Asrama Elim Rantepao. Nanti pada awal November 1957, setelah saudara Ishak Bitticaca menerima surat nota penugasan  di SMEA Kristen Makale barulah diadakan serah terima pemimpin sementara dari Bapak Y. Salusu kepada Bapak I. Bitticaca dan sekaligus, pelaksanaan belajar mengajar dipindahkan ke SGB Kristen Makale ( Setelah dipersiapkan sebelumnya karena 1 ( satu ) ruang telah kosong). Untuk tempat tinggal saudara Ishak Bitticaca disediakan 2 kamar di rumah Merah “To’ Kaluku Makale rumah tempat tinggal Tuan Tanis, ketika mengajar di Sekolah Sehakel Makale.
  2. Persoalan pertama timbul setelah siswa-siswi sudah pindah ke Makale ialah kelengkapan guru-guru. Langkah yang diambil Saudara Ishak Bitticaca ialah menghubungi pegawai di Kantor Daerah yang memiliki kemampuan untuk mengajarkan mata pelajaran yang ada di SMEA. Jelas mata pelajaran yang ada, tidak mungkin akan diajarkan oleh seorang guru saja. Syukurlah bahwa di Kantor Daerah terdapat tenaga yang bersedia diangkat sebagai tenaga honor untuk membantu mengajar masing-masing. Almarhum D. Palamba, mengajar mata pelajaran Hitung Dagang dan pembukuan. Petrus Gala, BA mengajar mata pelajaran Hukum Kabanga, BA mengajar mata pelajaran Stenografi dan Mengetik. Mata pelajaran lainnya, seperti Ekonomi Umum, Bahasa Inggris, Matematika dan OTP ( Organisasi Teknik perusahaan ) dibawakan oleh Ishak Bitticaca, J.M. Paranoan Kepala SGB mengajarkan Bahasa Indonesia.
  1. Tenaga TU yang ada adalah tenaga TU SGB, yang merangkap tugas Administrasi di SMEA adalah A.K. Ranteallo, J. Taruk Bua, Jopie Taihattu, Alik.
  2. Kegiatan belajar mengajar yang penuh semangat tinggi. Mungkin karena siswanya hanya 48 orang dan guru-gurunya yang mengajar dengan penuh dedukasi dan bertanggung jawab, suasana belajar mengajar di kelas sangat terasa hidup. Jam-jam pertukaran pelajaran kadang-kadang tak terasa saking bersemangatnya guru mengajar dan siswa mengikuti pelajaran dengan tekun tak terasa 3 bulan menjelang akhir tahun ajaran 1958, materi pelajaran berdasarkan squensi kurikulum yang ada, ternyata sangat signifikan, tidak ketinggalan, padahal jika melihat waktu dimulainya pelajaran kita terlambat ± 2 bulan.
  3. Masih dalam 1958, ketika terjadi peristiwa kerusuhan di Toraja ( Mei 20 s/d 10 Juli 1998) terpaksa semua Sekolah termasuk SMEA ditutup untuk sementara. Tak ada aba-aba atau rapat untuk meninggalkan kegiatan di Sekolah. Terjadi begitu saja, masing-masing siswa atau guru berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Nanti setelah peristiwa selesai baru para siswa dengan guru-guru pada datang sambil bercerita tentang pengalaman masing-masing.

Mengenai terjadinya peristiwa 1958, sebenarnya tidak perlu terjadi andaikata tidak ada peristiwa Permesta. Karena terjadi pemberontakan Permesta di Sulut, maka terpaksa TNI Bn 514 yang bertugas di tana Toraja dikerahkan ke Sulut untuk menumpas pemberontakan disana. Akibat terjadinya kevakuman pengamanan di Toraja, Tentara Res 23 dari Makassar mengisi kevakuman, tetapi kedatangan Res 23 pengganti Bn 514 ditunggangi oleh politik “Adu Domba”. Res 23 di susupi kelompok-kelompok tertentu untuk membalas dendam pada peristiwa 1952 di Tana Toraja. Pada waktu ini kelompok pengacau dapat dipatahkan oleh rakyat dibawah pimpinan Pappang seorang anggota Bn. Frans Karangan yang waktu itu sedang cuti di Tana Toraja.

 

C. Meletakkan Dasar-dasar Mencintai Alam

            Pada tahun 1959 menjelang libur tahunan para guru memprogramkan apa yang mereka namakan “Long Mars”. Long Mars adalah kegiatan menjelajahi desa-desa dengan jalan kaki sambil melihat dari dekat bagaimana kehidupan social ekonomi masyarakat pedesaan. Setiap tempat yang dilalui pada malam hari diadakan ibadah, paduan suara, serta sandiwara yang dihadiri oleh masyarakat desa setempat. Long Mars pertama diadakan dalam bulan Juni 1959, berangkat pagi dari Makale, Selasa menuju ke Pasa’ Buntu di Pasa’ Buntu menginap semalam, dan pagi-pagi jam 3 subuh hari Rabu rombongan peserta laki-laki mengikuti ekspedisi OPD (Organisasi Pertahanan Desa) menumpas gerombolan di daerah Pasa’ Dalle Duri. Pulang dari sana sekitar jam 13.00, perjalanan dilanjutkan ke Palesan. Di sini pada malamnya diadakan ibadah dan paduan suara. Besoknya hari Kamis pagi-pagi sekali jam 6 tanpa sarapan menuju ke Tapparan di Tapparan menginap di rumah keluarga Sarira, sebuah Tongkonan  yang beratapkan Batu Pahat. Kegiatan pada malam hari adalah diskusi sejarah rumah Tongkonan tersebut dan ibadah. Besoknya pagi-pagi sekali jam 7 setelah sarapan kembali ke Makale melalui Rantetayo.

          Tiba di Makale sekitar jam 12 .00, sambil berbaris mengelilingi kolam. Masyarakat sekitar, Menonton kedatangan rombongan sambil melambaikan tangan. Jumlah rombongan terdiri atas Guru dan Siswa.

            Long Mars kedua diadakan menjelang Hari Natal 1959 dengan sasaran Benteng Batu Pongtiku di Baruppu. Long Mars kali ini memakan waktu  3 hari  2  malam. Rombongan berangkat jalan kaki pagi-pagi dari Makale, Buntu Mamullu, Lolai, Pangala’, Baruppu’, Setelah bermalam di Baruppu, Rombongan pagi-pagi ke Benteng Buntu Batu Pongtiku untuk menyaksikan lokasi pertahanan Pongtiku waktu melawan Kompeni Belanda tahun 1906 – 1907. Rombongan diikuti  27 orang.

            Long Mars ke 3 diadakan dari tanggal 27  Desember  1960 sampai 4 Januari 1961, dengan mengambil rute perjalanan Bittuang – Mamasa – Nosu – Pana’ – Bittuang – Makale.

Tanggal  28  Desember  meuju ke Bittuang, di Bittuang rombongan mengadakan sandiwara pada malamnya. Kemudian tanggal  29  menuju Mamasa,  lewat To’ Lamba’, di To’ Lamba’ menginap di rumah to Parengge’.  Rombongan di jamu oleh penduduk dengan memotong satu ekor babi. Ibadah sambil memperingati hari kelahiran alm. Thomas Panggalo.  Pagi-pagi tanpa sarapan pagi, berangkat menuju Mamasa tiba di Mamasa pukul  12.00 istirahat dirumah penduduk. Malamnya rama tamah dengan penduduk dan bertemu dengan Letnan Alex, selaku komandan keamanan di Mamasa. Waktu itu, baru juga selesai diamankan kerusuhan disana yang dilakukan tentara Andi Selle.   Besoknya tanggal  31  rombongan terpencar mengikuti kebaktian tutup tahun di Tondok Bakaru dan Tawalian.

            Tanggal  1  Januari  1961 rombongan berangkat ke Nosu melewati hutan rimba. Ditengah hutan rombongan istirahat sambil beribadah menyambut tahun baru 1961. Perjalanan yang memakan waktu 11  jam itu 07.00  -  17.00  mengakibatkan kelelahan yang hampir tidak ditahan oleh  rombongan khusus Sdr  I. Bitticaca,  terpaksa dipapa sepanjang kurang lebih  3  jam.  Walaupun berat akhirnya rombongan tiba di Nosu  ±  17.00 diterima di rumah Majelis. Rombongan lagi-lagi dijamu dengan memotong seekor Babi.  Kesan yang dirasakan rombongan adalah Masyarakat Nosu sangat gembira,  udara yang sangat dingin. Bayangkan daging babi yang disuduhkan panas-panas lemaknya langsung membeku diperkirakan dinginnya udara Nosu ± 5  - 100 C. Pada malam hari rombongan menggelar lagi sandiwara.  Keesokan harinya  tanggal  2  Januari  rombongan menuju ke Pana’.  Rombongan tiba di Pana’  ±  17.00  dan diterima oleh  Parenge’  Pana’.  Bapak Pai’pinan, seorang pemimpin perlawanan rakyat melawan Tentara Andi Selle.  Masyarakat Pana’  yang jumlahnya  ±  50  orang ikut menyambut rombongan dengan menunjukkan tari-tarian pa’gandang  100 irama. Betul-betul sambutan masyarakat sangat ramai. Rombongan lagi-lagi di jamu dengan memotong seekor babi.

          Pagi-pagi  3  Januari  1961  rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bittuang melalui jembatan gantung Massuppu’, Bau, Pali’.  Tiba di Bittuang  ±  jam 17.30.  Rombongan istirahat semalam lalu besoknya tanggal  4 Januari  1961  pagi-pagi kembali ke Makale dan tiba jam  16.00.

          Peserta adalah  I. Bitticaca,  Thomas  Panggalo alm. Musa Toding, Jhon Rundpadang alm,  Ludia Paonganan,  Benyamin Bura,  Layuk Sarung Allo,  Yacoba Sampe Rante,  dan lain-lain kurang lebih  28  orang.

 

D. Mengembangkan  Pendidikan Ekstra Kurikuler

  1. Berdarmawisata Salah satu kegiatan extrakurikuler di SMEA pada tahun-tahun pertama adalah berwisata. Pada waktu itu adalah waktu liburan Juli 1961. Dan diprogramkanlah sebelumnya acara Darmawisata ke Malino.  Kegiatan antara lain : Melihat keindahan Malino. Mengadakan pertunjukan sandiwara di Gowa, di fasilitasi oleh Bapak Letkol Palinggi’, Kapolres Gowa waktu itu. Mengadakan pertandingan persahabatan sepak bola antar SMEA Kristen Makale dengan SMEA Negeri Makassar,  di Stadion Andi Mattalatta. SMEA Kristen Makale mengakui keunggulan lawan,  kalah telak  0  -  11.  Rombongan berangkat dengan satu truk  PU  dan  satu  Jeep,  Bantuan Bapak  H. Lethe,  Bupati Tana Toraja. Perjalanan Darmawisata  selama  5  hari  Makale  - Makassar – Malino – Goa  Makassar pulang pergi sangat berkesan. Pesertanya  ±  30  orang
  1. Mengembangkan kegiatan olah raga sepak bola Guru-guru dan Siswa penggemar olahraga, mereka membentuk PORWARY singkatan dari  Persatuan Olahraga  Warga YPKT. Dengan sepak bola sebagai inti kegiatan olah raga, PORWARY  pemainnya antara lain : Thomas Panggalo  alm, Jhon Rundupadang  alm,  K. Rante Allo alm, Musa Toding,  Tjo Cun  alm, Petrus Rerung, Jhon Tandi Lolok, David Rundupadang.  PORWARY  berkali-kali memenangkan kejuaraan sepak bola antar klub di Kab. Tana Toraja.
  2. Untuk meningkatkan kegesitan dan ketrampilan Siswan diadakan pula lomba lari lintas alam ( lomba lari padang luas ) yaitu berlari satu arah hanya dengan melihat tanda panah, melalui rintangan alam, seperti melewati kali, berenang melalui kolam, naik gunung, turun gunung, melintasi sawah, sampai ke garis finis yang ditentukan panitia. Pemenang waktu diadakan lomba ini adalah Petrus Rerung.
  3. Perang-perangan diadakan untuk melatih siswa berfikir, kreatif, analisis menyusun strategi untuk merebut pertahanan lawan. Caranya : Kegiatan perang-perangan diatur sebagai berikut :
  1. Siswa dibagi dalam 2 kelompok masing-masing 20 Kelompok  A  adalah  kelompok yang bertahan mempertahankan bentengnya. Kelompok B adalah kelompok penyerang yang menyerang / merebut benteng kelompok  A.
  2. Kelompok A menentukan wilayah pertahanan dan membuat barikade untuk menghalangi kelompok  B penyerang. Disalah satu titik strategis dipacangkan bendera, dan bendera inilah yang dipertahankan, bila mereka dapat merebut bendera maka kelompok B dianggab menang.
  3. Perancang kegiatan ini adalah sdr. I. Bitticaca karena pernah mengalami ketika bersekolah di Nogio Jitsumu Gakko sekolah menengah pertanian jaman Jepang di Palopo.
  4. Pelaksanaannya diadakan pada malam hari lewat jam 12  malam di  Km  7  arah  Makassar,  setelah sebelumnya diadakan pendakian gunung kandora – Marinding.
  5. Pemenang dalam perang-perang ini adalah kelompok B  dibawah Komando  Jhon Tandi Lolo,  kelompok B  dapat menembus pertahanan  kelompok  A  dan merebut bendera yang dipertahankan.
  1. Bakti Sosial merintis meratakan puncak gunung “Sion”, sebagai cikal bakal gereja jemaat Sion – Makale. Setelah ditetapkan lokasi baru membangun gedung gereja Makale yaitu di buntu belakang Kantor Pos Makale, maka siswa-siswa SMEA dibawah coordinator Kepala Sekolah dikerahkan untuk meratakan tanah tempat bangunan yaitu sekitar 20 x 30  m  dengan kedalaman tanah galian  rata-rata = 2 m. Siswa  SMEA yang jumlahnya  ± 100 orang datang dipagi-pagi  buta  ±  30, bekerja dengan penuh semangat. Bagaimana konsumsi para siswa berbakti social  8  jam  penuh pada saat bekerja meratakan lokasi itu? Ya, sekolah bertanggung jawab dan segumpal batu  ±  1  ton  tergali dan terguling, hamper mengenai bangunan rumah  A.D  Andi Lolo. Diharapkan Jemaat Sion  Makale, dapat mencatat peran partisipasi  SMEA Kr. Makale, dalam sejarahnya.
  2. Membuka Toko Praktek SMEA Kristen Makale Untuk merangsang jiwa wirausaha Siswa pada tahun ajaran  1960 / 1961  dibuka Toko Praktek  SMEA  berlokasi di satu petak  3 x  4  m lood  Pasar Makale. Setiap siswa dipungut uang praktek  Rp. 500,-  untuk pengadaan barang-barang campuran untuk dijual. Siswa kelas  3  secara bergiliran  2  orang menjaga/menjual di toko, Setiap giliran siswa harus bertugas  3  jam, kemudian diganti oleh  2  orang  siswa lainnya. Toko praktek hanya dibuka dari jam  07.30 – 13.15  setiap  hari sekolah. Tidak terlalu jelas alas an, kemudian toko praktek ini ditutup. Mungkin tidak ada tamatan SMEA yang tertarik untuk terjun ke usaha jual beli barang campuran.

 

 

DAFTAR NAMA PEJABAT KEPALA SMEA (SMK) KRISTEN MAKALE

 

 

KOMENTARI TULISAN INI

...

Trimurti Rundupadang, S.Si

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut…

Selengkapnya

TAUTAN